Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang...

Sabtu, 26 Februari 2011

Dari Duka, Jadi Suka...


Oh Desaku...

"Desaku yang kucinta
Pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda
Dan handai taulanku
Tak mudah kulupakan
Tak mudah bercerai
Selalu kurindukan
Desaku yang permai"
Tak pernah terfikir olehku sebelumnya akan jatuh cinta pada pandangan pertama di desaku. Sungguh perjalanan yang tak direncanakan olehku dan keluarga, "Dadakan" kata yang tepat untuk itu. Berawal dari berita sedih ketika kakekku sakit keras dan kritis. Belum ikhlas dihatiku ketika mendengar kabar itu dan memutuskan untuk mengikhlaskan beliau. Besar keinginanku untuk bertemu beliau, terselip satu pintaku untuk melihat beliau yang pertama dan terakhir kalinya. Puncaknya pada hari Senin tanggal 7 Februari 2011. Dari pagi paman dan kakak sepupuku sudah sms yang tidak menyenangkanku, salah satu smsnya begini bunyinya :
"Mbak ri sm keluarga doain ikhlasno nek wis tkan wektne sng kpnak ninggle khusnul hotimah"12.22
Tanpa ada balasan sedikitpu dariku, karena besar harapanku agar dapat bertemu beliau pertama dan terakhir kalinya
Pesan berikutnya pun masuk dengan maksud tak jua berbeda
"Mbak ri, kabari paman n bibi mdh2n kakek seandenya di panggil YMK menjadi khusnul khotimah yg ikhlas y smuany."12.43
Sulit untukku membalasnya, aku tetap ingin melihat beliau. Ku bertemu kepala sekolah untuk meminta izin, hari jum'at depan kami baru punya kesempatan untuk itu. Hingga selesai dengan kesibukanku disekolah barulah aku membalas nya. Dengan sedikit rangkaian doa dihati, ku hanturkan do'a ku pada sang khalik agar dapat memberikan yang terbaik untuk kakekku. Kali ini aku mengikhlaskan, apapu yang Allah berikan. Aku Ikhlaskan bila kakekku dipanggil. Aku tidak mau menghambat perjalannanya. Aku benar-benar mengikhlaskan beliau. lalu ku balas pesan2 sebelumnya dengan satu kata saja "AAMIIN".
Satu pesan balasan terakhir dari pamanku yang mengejutkan dan memecahkan tangisanku.
"Dek ri, kakek udah meninggal tadi jam 2krg seperempat yg sabar y semuanya"Ya Allah, aku baru saja membalas smsnya kurang dari 1 jam, iya. Aku bisa saja menjadi ppenghambat kakekku dalam perjuangan akhir hidupnya. Aku sungguh merasa bersalah. Apalagi, ayahpun merasa terpukul ketika ku bacakan sms itu. Gara-gara kontrak kerjaku ayah tidak dapat menemui kakek untuk yang terakhir kalinya. Ayah tidak bisa memenuhi azamnya untuk membawa keluarganya sebelum kematian menjemput kakek...
Tak dapat terbendung lagi air mata itu jatuh dan terus mengalir hingga keberangkatan kami dua hari setelah perginya kakek. Seharusny perjalanan ini dmulai dg hati gembira n tanpa air mata...Perjalanan menuju desa tercinta yang kudamba-dambakan sejak dulu. Keinginan untuk kesana sudah ku pendam sejak lama. Memimpikan agar dapat berkumpul dengan keluarga besar menjadi harapan dan impian terbesarku sejak dulu tapi tanpa airmata dan duka sedikitpu sedikitpun.Dua hari, dua malam perjalanan membuatku lelah, namun tetap menyenangkan dalam duka. Menyebrangi selat sunda dengan panorama nan indah kami sampai didesa tercinta. Ambarwinangn, kebumen, Jawa Tengah. Sambutan hangat dari keluarga besar serta keindahan alam desa membuatku jatuh cinta. Udara dingin nan sejuk, pemandangan elok nan memukau, hamparan sawah nan indah serta keramahan masyarakat desa. Indah dipadang mata, menenangkan jiwa. Mungkin memang karena aku yang tidak pernah melihat desa jadi saat pertama kesana aku terpesona. Buka itu tujuan utama, tapi berziarah dipusaran kakek tercinta. Ini kali pertamanya untukku berziarah di makam keluarga. Sungguh bukan keadaan yang menyenangkan. Dihadapan pusaran beliau kami melantunkan surat Yasin. Tak dapat menahan tangisku, mungkin bila tidak ada orang disekitarku aku sudah trsenduh mengeluarkan air mata. Ingin kukatakan "Kakek, kami datang. Kami datang untukmu. Aku cucumu yang belum pernah engkau lihat, peluk dan cium.Aku mencintaimu karenaNya. Semoga engkau mendapatkan tempat yang lapang disana" namun aku tidak bisa, aku malu pada ayah, ibu, paman dan nenek yang hadir. Terlihat jelas juga kesedihan dari ayah tercinta ketika menutup doa dan mengakhiri ziarah itu dengan memegang nisan dan mencium tanah. Ada penyesalan mendalam yang tertahankan dari sosok ayah yang kuat. Kami merasa kehilangan... tapi begitulah hidup, berputar dan akan terus berputar. Kebudayaan yang tak patut dikembangkan terus bergerak dan dijalankan. "nigo ari, nuju" dirayakan. Tak sampai hati aku melihatnya, ingin ku katakan "ini tak ada dalam ajaran Rasul" tapi akau tidak punya kekuatan. Kematian adalah peristiwa menyedihkan lalu kenapa harus dirayakan!Melawan dengan do'a adalah jalan terakhir dari sebuah ikhtiar.
Berkumpul bersama keluarga adalah saat yang paling menyenangkan. Bertemu banyak orang membuat kesedihan itu berubah jadi kebahagiaan. Ternyata aku banyak saudara, semuanya menjadi istimewa. Aku senang banget, Aku mendapat kakak. Iya, panggilan kakak untuk saudara yang tak pernah dapat ku katakan diPalembang untuk keluargaku. Senyum mereka menyejukan hati, menghangatkan jiwaku, keceriaan menghidupkan jiwa. Perjalannan yang sungguh menyenangkan. Aku bener2 betah disana, menikmati kehidupan disan sungguh membuatku bahagia. Udara sejuk, hamparan padi yang menguning, anak2 desa, sepeda, pantai bahkan jalan2 ke Yogyakarta bersama kakak sepupuku. Wah tak pernah tepikir oleh ku karena tujuanku mudik bukan untuk itu. Yogya, akhirnya aku datang juga. Walau singkat namun tetap hangat. Kota pelajar, sebutan yang indah. Benar benar kota yang ramai denga aneka manusia didalamya. Sayang aku tak sempat menikmati lebih lama. Perjalanan satu hari ke Jogja membuatku rindu ingin berjumpa kembali. Membayangkan naik sepeda ontel dengan pakaian ala putri belanda, enak kali ya klo dilakukan. Wah mau...mau...mau...Liburan dadakan yang menyenangkan, ingin ku mengulangnya kembali. Harapku bisa tinggal disana karena aku penat dengan kehidupan kota. Mulai saat ini, q bertekat untuk menabung hingga aku bisa datang dan singgah lebih lama lagi di desaaku. Semoga Allah senantiasa memberkahi keluargaku, memberi kami umur panjang dan rizky yang melimpah hingga bisa bersama kembali selamanya... Aamiin. I love my Village so much. Thanks Allah, for your giving...
Kebumen, wait me...


"Keluarga adalah Anugrah"





Senin, 20 Desember 2010

S.Pd 081210

Palembang, 081210

"Ketika kuncir berpindah posisi,ada sedikit kebanggaan dihati bahwa satu kunci masa depan telah kumiliki. Kebanggaan yang ku persembahkan untuk sepasang pejuang hidupku, Ayah dan Ibu... Love U so much..."

Merangkai sebuah kata indah, dari hati terdalam, dari sebuah rasa, dari cinta yang melebur menjadi satu dalam dada. Dengan mata yg berkaca, karena bahagia. Untukmu Ayah dan Ibuku Tercinta ku persembahkan gelar sarjana.

Alhamdulillah, kuselesaikan juga pendidikanku dibangku kuliah sesuai target. Senang bercampur haru biru menyelimuti. perjalanan yang tidak mudah telah kulalui, sungguh jika bukan karena Allah aku mungkin saja tidak bisa menjadi peserta wisudah hari ini karena banyak rintangan didalamnya yang jika kita fikir secara logika itu tidak akan mungkin terjadi. mungkin saja tahun depan aku akan merasak yang namanya wisudah. Do'a orang tua dan semangat teman2ku sangat berpengaruh. Masalah yang menyapa tak menjadi penghalang tapi semakin mendewasakan.Perjuangan menggapai ini tak terlepas dari semua orang yang ku cintai dan mencintaiku. Kulihat ada rasa bahagia bercampur bangga di kedua mata mereka, sungguh ini sangat kecil yang bisa ku berikan untuk mereka ayah dan ibu tercinta. Airmataku hampir keluar ketika mendengarkan cerita ibu yang cukup antusisas setelah acara wisuda tadi, ia tampak bahagia ketika nama ku disebutkan untuk dipindahkan kuncir dari kiri kekanan. Sepertinya perjuangan mereka menyekolahkanku tidak sia-sia,mungkin itu ujar beliau dalam hati.
Sedikit me-review persiapan wisuda hari ini. Persiapan kebaya dari bulan2 sebelumnya bahkan sebelum aku tau aku akan bisa berwisudah hari ini, kendaraan dan banyak lagi. H-2 ku tergeletak tak berdaya dikamar, Demam menyerang dan kepanikan tampak terlihat di mata orangtuaku tercinta. Kegiatan yang ku rencanakan to esok hari terancam gagal, gladi plus musda PKS kemungkinan tampak tak dapat ku hadiri. Ayahku tampak tak tega melihatku menangis ketika ibu memaksaku makan dan minum obat tradisional. Seorang teman yang backgroundnya Perawat akhirnya mengambil alih pekerjaan ibu. Singkat cerita tanpa basa-basi temanku mengambilkan obat dan menyuruhku minum. Ketika malam semakin larut, udara tampak semakin dingin, dan tubukku kurasakan tak kunjung membaik. dengan sabarnya ibuku merawatku layaknya anak kecil. Keningku diperiksanya, selimutku pun dipakaikannya. Tak lupa pula ayah yang sangking cintanya tidak mengizinkanku untuk menjalankan agendak dikarenakan sakit namun aku tetaplah aku, wlw tubuh tak mampu tapi sugesti sehat harus kuhidupkan. Walau fisik lemah tapi fikiran harus tetap kuat, lagi2 menjadi sosok pembangkang. Ketika malam menyapa, ayah slu mengingatkan aku yang pelupa ini untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Hal yang menarik untukku adalah ketika Ayah bertanya kenapa aku tidak kesalon seperti beberapa temanku. Sangking ingin melihatku tampil sempurna hari itu ayah menyuruhku untuk ke salon walau tetap tidak bisa aku mengikuti perintahnya.
Wisuda...
bukan akhir tapi awal dari kehidupan nyata. Mau q bawa kemana gelar yang telah kudapatkan dengan susah paya ini, mau ku kemanakan gelar yang merupakan hasil perjuangan orang tuaku ini. Aku tidak bisa menjamin bahwa dengan gelar ini aku akan bisa terus membahagiakan dan membanggakan kedua orangtuaku tapi aku akan terus berusahan untuk itu,aku tidak akan menyerah.

Hidup nyataku baru saja dimulai, akan ku ciptakan bahagia dan keindahan dalam kenangan masa hidupku...


_Ad-Dhoif_

Sabtu, 11 September 2010

Suka Cita Ramadhan nan Indah


Palembang, 10 September 10

1 Syawal 1431 H

Gema takbir berkumandang, memberi rasa yang mendalam. Ada getaran dihati yang melunakan jiwa hingga menitiskan butiran airmata. Asma Allah itu begitu menyentuh hatiku, menusuk kerelung jiwa ini. Kurasa ini adalah bulan ramadhan tersulit yang ku alami, bukan tersulit tapi terunik dalam hidupku sampai hari ini. Tantangannya begitu besar hingga tak dapat ku uraikan dengan beribu banyak kata. Disini, dimalam ini, ku ingin sedikit mereview Ramadhanku.Untuk airmata yang tertahankan dan tak dapat ku bagi karena tak tau siapa yang bisa diberi. Mungkin aku terlalu pelit tapi sungguh ku rasa tak ada yang dapat ku beri dan kurasa tak pantas berbagi kesedihan. Karena untukku kebahagiaan semua saudara2 ku adalah kebahagiaan ku juga. Cukup Allah sajalah yang selalu menjadi penolong dan tempat berbagi keluh kesahku saat ini dan selamanya.

Bulan Ramadhan nan indah dan penuh pesona to semua muslim didunia. Satu Ramadhan tepat jatuh pada Hari Rabu tanggal 10 Agustus 2010. Kau tau teman sebelum ramadhan datang kusambut dengan hati riang, target ibadah yang harus ku kejar dengan semangat 45. Disinilah aku akan menempah diri ini,mengumpulkan pahala2. Pokoknya aku harus fokus kedalam ibadah. Namun keinginan hanyalah keinginan, kesibukanku tidak mengizinkan aku fokus dalam ibadah saja. Allah benar2 mentarbiah ku untuk dapat disiplin waktu. Aku tercebur dalam satu kegiatan yang entah kapan aku mulai. Iya satu kegiatan yang akupun tak menyangka aku bisa masuk disana. Jauh dari bidangku sekarang. Satu kegiatan yang kunilai pesimis pada awalnya dan satu kegiatan ini yang membuatku menitikan air mata ditengah cobaan yang mendera. Bukan karena kegiatannya yang tak dapat aku terima tapi karena akunya yang merasa tak percaya atas apa yang aku terima. sebuah keputusan yang sulit kupercaya namun harus ku ikhlaskan dan memaklumkan untuk kebaikan nya. Air mata pertama dalam perjalanan pulang disaksikan alam dan sang matic tercinta tak jatuh sepenuhnya. Tak dapat kusalahkan siapa2 hanya aku menyalahkan diri ini kenapa harus menangis. Selemah itukah aku dengan air mataku. Entah air mata apa itu, ”Perpisahan”kah??? Ya satu kata yang ku ingat terucap dari caranya bukan dari perkataannya. Atau mungkin itu air mata ketakutan menghadapi hari esok yang kufikir sangat rumit dan sulit untuk ku lalui sendiri. Walau dalam teorinya aku tidak sendiri tapi menurut perhitunganku akan sulit dan akan ku lakukan sendiri.Dan untuk kesekian kalinya aku mencoba menguatkan diri yang lemah ini “ Sendiri itu lebih baik”! Kutampik semua rasa sedih itu dengan mencoba mengikhlaskan dan aku yakin Allah tidak pernah meninggalkan ku sendiri. Akan ada kekuatan baru untuk ku, dan kekuatan itu tidak dengan air mata. Tidak!!! karena air mata hanya dapat melemahkanku. Aku bukan wanita yang lemah. Allah memberikan cahaya baru, kekuatan baru dengan mencarikan tenaga baru walau ku tau tidak ada yang menggantikan sama halnya aku seperti sebelumnya. Kecewaan itu tetap tertancap dan segera kutampik “Sesuatu yang hilang itu akan diganti Allah dengan yang lebih baik. Ya, Aku telah mendapatkan yang lebih baik” ku coba menguatkan diri didalam kelemahan hati dan membungkusnya dengan senyum dan tetap optimis tidak ada yang akan hilang namun akan banyak yang datang. Aku percaya hal itu. walau ku tau ada hati yang tersakiti ketika aku mengatakan hal itu tapi aku ingin dia tau aku tidak kecema dan sedih cukup aku saja dan Allah yang Tau. Namun tetap saja, fikiran ini terasa berat untuk memikirkan menjalani apa yang direncanakan. “Jangan difikirkan tapi dilakukan” kata2 bijak dari Murrobiku dan beberapa teman yang memotivasiku. Bismillah ku melangkah menjalani ramadhan.

Ternyata benar, dijalani walau berat akan terasa seperti angin lalu saja nantinya. Lelah itu pasti tapi Aku mencoba menikmati setiap perjalanan ramadhanku dan itu membuatku merasakan aku mendapatkan lebih dari yang kuduga. Keluarga baru, dunia baru, ilmu baru dan banyak hal. Seminar yang kunanti pun aku jalani ditengah kesibukan. 3 September 2010 akhirnya ku lewati walau dengan hati sedih. Ku mencoba melakukannya semaksimal mungkin. Seminar yang mengharukan menurutku. Persiapan yang minim, ditengah kesibukan yang tak dapat ku lewati. Teringat ketika aku mengerjakannya setelah semua kewajiban didapurku selesai. Kira2 sekitar pukul 00.30, dan kebiasaan ayah memang bangun jam segitu mengecek apakah aku telah tidur atau belum. Seperti yang beliau lihat malam itu aku belum tidur dan sedang asik berkutik dengan mas accer tercinta dan bang printer. Biasanya beliau berbicara cukup tegas menyuruhku tidur walau aku sedang sibuk dengan tugas kuliah. Tapi malam itu tidak banyak kata yang beliau sampaikan, “Rie, sdh malem. tidur lah. Kau kan capek.Pasti kau capek nian, tidurlah ya” aku hanya mengangguk tanpa berucap Entah kenapa tiba2 airmataku jatuh dengan sendirinya. Ya Allah begitu cemasnya ayahku, Begitu jahatnya aku yang membuat beliau mencemaskanku. Perhatiannya yang kadang tidak diperlihatkanya padaku

Dengan kesehatan yang tidak mendukung ku coba bertahan melalui Ramadhan hingga akhir. Suara yang tidak kunjung pulih tidak menyurutkanku dalam kegiatan2n ku satu kuncinya adalah jangan mengeluh. Tapi itu tidak bisa kulakukan, aku selalu mengeluh. Mengeluh padamu ya Allah, Ya Hanya Allahlah tempat mengadu yang tepat. “Cukup Bagiku Allah” Tempatku memohon kekuatan dan kelapangan hati dalam menjalani akttivitas ku sehari2.

10 malam terakhir, terus ku tingkatkan amal ibadahku mengejar target ramadhan tapi lagi2 Allah mengujiku. Undangan buka puasa mulai berdatangan, ada musibah jg di Rumah sakit,dan sedkit tekanan dari orangtua, Dan semua membuatku semakin kuat. Di Rumah sakit, ku dapati rasa syukur yang mendalam dan pengikat persaudaraan, di Buka bareng ku bisa refresing dari kepenatah hati,dan dirumah mengajarkan aku dewasa. Dan sampai hari ini,seingatku aku hanya 3 kali berbuka puasa dirumah. Yang lain diluar.Ini masa tersulitku, semua teman2ku menginginkan kehadiranku. Menolak kurasa tidak bisa dilakukan. Sungguh sulit sekali aplagi beberapa teman komplen “rie,sekarang begini ya... rie begitu ya...” dan banyak lagi. Tak sanggup aku mendengarnya. Mencoba bermutasi diri dengan sebaik mungkin dan jangan ada yang kecewa. Sungguh kebahagiaanku adalah membuat bahagia orang2 disekitarku. Aku tidak bisa melihat mereka kecewa karenaku. 10 hari terakhir aku tak dapat memaksimalkannya dengan baik. Aku tidak diwajibkan untuk berpuasa,hanya disisa sisa ramadhan aku baru bisa menjalankannya. Itupun harus ku bagi dengan berbagi bersama orang2 yang aku cintai “Ya Allah, harapku hanya satu semoga semua bernilai ibadah dihadapanMu... Aamiin” Pintaku dengan segala kelemahanku.

Akhir Ramadhan yang penuh hikmah dan begitu singkat ku rasa. Sungguh airmata yang kurasa diawal jumpa terhapus sudah. Yang kurasa akan hilang ternyata bertambah mesra dan ku harap begitu selamanya, mendapat keluarga baru yang planning baru dan semuanya menyenangkan bagiku. Walau kadang kumerasa ada yang salah tapi tetap berfikir dengan positif harus diperbaiki. Allah sayang padaku, Ia memberikan satu bingkisan kecil untukku sebagai penguat diakhir ramadhan. Dan diakhir ramadhan masalah itu dimulai. Sebuah fitnah datang kembali menyapaku, dari seorang yang sudah kuanggap seperti siswaku sendiri. Untuk kesekian kalinya aku merasa tidak bisa menjaga hijabku. Padahal pertemuan kami bisa dihitung dengan jari tapi entah bagaimana fitnah itu menyapa. Aku yakin semua akan berakhir segera.Badai pasti berlalu, Akan ada pelangi setelah hujan, Akan ada cahaya mentari setelah malam menyapa. Biarkan semua berlalu seperti apa yang Ia mau. Aku percaya Allah memberikan masalah sepaket dengan penyelesaiaanya. Tidak akan lebih dan kurang dari kekuatan hambanya. Tetap untuk ku dan selalu Allah lah yang menjadi kekuatan.

“ Cukup bagi ku Allah, segalanya untukku Tiada Tuhan selain Allah, Cukup Bagiku Allah...”

_Ad dhoif_

_Mentari Syifazillah Rizky__

Untukmu Teman...




Di sini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau menghulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria

Kini dengarkanlah
Dendangan lagu tanda ikatanku
Kepadamu teman
Agar ikatan ukhuwah kan
Bersimpul padu

Kenangan bersamamu
Takkan ku lupa
Walau badai datang melanda
Walau bercerai jasad dan nyawa

Mengapa kita ditemukan
Dan akhirnya kita dipisahkan
Munkinkah menguji kesetiaan
Kejujuran dan kemanisan iman
Tuhan berikan daku kekuatan

Mungkinkah kita terlupa
Tuhan ada janjinya
Bertemu berpisah kita
Ada rahmat dan kasihnya
Andai ini ujian
Terangilah kamar kesabaran
Pergilah derita hadirlah cahaya

* Cerita dari sebuah ukhuwah yang entah kapan bermula.
Dari dua insan yang berbeda, beda karakter, suku, dan semua kecuali Agama.
Berantem!!! Pasti tapi cinta dihati tak kan pernah mati hingga Allah sendiri yang Mengakhiri. Entah apa beliau merasakah hal yang sama tapi aku yakin ada. Tak bisa dikatakan tapi aku merasakan. Tak selalu akur,tapi dengan begitu ukhuwah ini makin erat.
"Wahai Allah Sang Pemilik Cinta, Maka jadikanlah kami saling mencintai karena Mu. Bagaimana mungkin kami bisa mengemban amanah ini, tanpa kami terikat oleh rasa saling mencintai dan mengasihi satu sama lain? Karena itu wahai pemilik cinta, aku pesan 2 buah paket cinta. Satu paket berisi cintaku untuknya dan satu paket berisi cintanya Untukku. Aamiin"

_Al Dhoif_
_Mentari Syifazillah Rizky_

Jendela Hati


Aku Ingin Hidup Secerah Mentari
Yang Menyinar Di Taman Hatiku
Aku Ingin Seriang Kicauan Burung
Yang Terdengar Di Jendela Kehidupan

Aku Ingin Segala Galanya damai
Penuh Mesra Membuah Ceria
Aku Ingin Menghapus Duka Dan Lara
Melerai Rindu Di Dalam Dada

Sedamai Pantai Yang Memutih
Sebersih Titisan Embunan Pagi
Dan Ukhuwah Kini Pasti Berputik
Menghiasi Taman Kasih Yang Harmoni

Seharum Kasturi Seindah Pelangi
Segalanya Bermula Di Hati Di Sini...

Selasa, 04 Mei 2010

Duhai Ayah dan Ibu, Bolehkah Aku jauh dari mu,...???


Untukmu Ayah dan Ibu yang Kucintai...
Ibuku,
Untuk setiap alunan doamu yang kau panjatkan hanya untukku
Untuk airmata yang mengalir di setiap malam-malammu
Untuk kasih sayang tiada tara yang kuterima setiap waktu
Untuk pelayanan yang kau berikan sepanjang waktu
Untuk kecemasaan mu karenaku namun ku tampis begitu saja
Dan Untuk semua cinta yang mengalir tulus....
Ayahku,
Untuk cucuran keringat yang tak dapat ku hapus
Untuk tenaga yang habis mencari nafkah memenuhi kebutuhanku
Untuk Penjagaan dari kekejaman dunia dan kebohongan manusianya
Untuk kebebasan yang engkau berikan tanpa menghilangkan pengawasan
Untuk kemarahan yang terucap ketika perbuatanku tak sejalan dengan fikiranmu
Dan untuk semua cinta yang dbalut dalam ketegasan

Aku mencintai kalian karena Allah...
Sejak kecil hingga beranjak menuju usia 22 tahun ini aku tumbuh dalam naungan kasih sayang dengan penuh ketegasan. Bukan dengan kemanjaan dan limpahan kasih sayang didepan mata. Selama ini aku tidak dapat mendengar langsung kata-kata seperti pada sinetron zaman sekarang "anakku ibu menyayangimu" tidak pernah. Bahkan di hari kelahiranku saja kalian kadang lupa. Tidak ada pelukan dan ciuman hangat yang terlempar untuk ku dari kalian. Namun aku tidak kecewa karena aku mendapatkan yang lebih dari itu. Kasihsayang tidak selau dalam bentuk pelukan dan ciuman serta yang tak kalian ucapkan namun perhatian yang kini kuterima lebih dari yang kuharapkan.
Ketika ku pulang melewati Magrib, kalian biarkan makanan menganggur begitu saja tanpa ada yang menyentu sebelum menunggu ke datanganku... Sungguh anak macam apa diriku yang tega membiarkan kedua orang tuanya kelaparan.
Lain dulu, lain sekarang...
Dulu semasa SMA ketika aku pulang terlambat atau bahkan ku tak pulang, kalin tidak terlalu mencemaskannku. Kalian mengizinkan ku tu menginap kerumah teman tanpa mau tau siapa teman2ku,
Dulu, harus menjelaskan panjang lebar baru dapat dana lebih diluar uang jajan.
Dulu, kalian tidak pernah mau tau kegiatan ku. Apa yang aku lakukan diluar sana. hingga aku keluar kota perwakilan sekolah kalian tidak mengantar ku...
Kebebasan dan kepercayaan yang super aku dapatkan, hingga kadang aku berfikir kalian tidak merasa sayang padaku karena ketika aku jauh kalian tidak merindukanku..

Tapi prasangka buruk itu sirna, Allah memberi jawaban....
Sekarang, Setiap waktu aku di telpon. "Mau kemana, dengan siapa, sampai jam berapa?" harus ku jawab dengan sejelas-jelasnya... Mau mabit pun harus izin dengan panjang lebar...
Sekarang, fasilitas kalian berikan tanpa harus penjelasan. Motor, laptop dan printer serta kebutuhan ku lainnya kalian penuhi tanpa alasan q ungkapkan...
Ingin rasanya aku mudik karena kita tidak pernah mudik ke kampung halaman sejak q dilahirkan, atau sekedar menghilangkan penat ditengah keramaian kota. Tapi, kalian butuh penjelasan yang teramat jelas. Padahal aku hanya pulang dan pergi pada hari yang sama... Bahkan engkau ayah, mengantarku hingga kau tau dengan siapa aku pergi.
Engkau marah pada ku ayah, ketika aku memutuskan pulang sendiri dengan bis tanpa menelpon mu untuk kau jemput...
Ya... aku sedih dengan kemarahanmu ayah, tapi aku bahagia karena aku dapat melihat jelas rasa sayang mu padaku.Dengan super protector kalian mengungkapkan kata cinta itu. "Hati-hati dijalan ya..." kata2 itu selalu hadir di awal hariku, ibu atau etiap diakhir telponmu ayah.
Sungguh aku merasa tidak dapat jauh dari kalian...
Tapi Ayah dan Ibu yang kucintai karena Allah...Telah lama aku menginginkan agar bisa berada jauh dari kalian, bukan karena aku tidak bahagia bersama kalian ataupun aku tidak cinta. Banyak yang aku pertimbangkan untuk perbaikan diri dan kebahagiaan kalian. Aku hanya ingin mencoba mandiri, aku hanya ingin keluar dari mengekor kalian. Aku ingin bisa sukses tanpa campur tangan kalian dan memberikan kesuksesan itu hanya untuk kalian...Aku ingin menghilangkan sifat manja ku, aku ingin lebih dewasa,dan aku ingin bisa lebih mandiri dari sekarang ini...
Ini saat yang tepat untuk ku merencanaka apa yang akan aku lakukan di masa yang akan datang karena waktu kuliah yang insyaAllah tidak panjang lagi. Dua jalur telah ku rancang. Mengajar di kota Prabumulih bersama bibi dan teman SMA ku untuk mengajar disana atau ke Banyuasin mencoba bisnis disana bersama saudari ku dan teman2 baru yang welcome pada ku.
Dua tempat terakhir yang ku pilih dari beberapa tempat yang jauh dari itu. Semua nya sepertinya menyenangkan, karena aku mendapatkan ladang dakwah baru. tantangan baru dan tentunya saudara dan pelajaran yang baru. Kedua kota itu sudah tempat yang paling dekat untuk ku. Aku masih tetap bisa pulang kePalembang dan KTP ku tetap di Palembang. Tetap bisa liqo di Palembang karena setidaknya bisa seminggu sekali aku pulang atau klo bisa setiap hari aku pulang pergi.
Tapi sepertinya itu hanya sebuah rencana saja, tidak lebih dari itu. Ternyata kondisi nya sekarang tidak seperti yang aku bayangkan seperti dulu. Aku kira dirumah akan ramai setelah pernikahan mbak tapi sebuah masalah terjadi dan memang bila seorang wanita telah menikah harus mengikuti imamnya.
Sekarang aku menjadi anak tunggal dirumah diriku sendiri. Tanpa ada yang tau bahwa diriku merasa sepi. Aku menjadi tidak tega bila harus meninggalkan kalian berdua saja menikmati hari tua. Aku ingin dapat melayani kalian menikmati hari-hari tenang tanpa ada beban memikirkan pendidikan anak. Tanpa memikirka aku. Aku yang akan menjadi pelayan kalian dihari tua. Teringat dahulu saat masih bersama Mbak dan dia belum menikah. Kami pernah berjanji tidak akan membiarkan Ayah dan Ibu hidup hanya berua di rumah tanpa ada yang menemani, bila setelah menikah mbak tidak bisa tinggal dirumah kami bersama Ayah dan Ibu maka aku yang akan menemani. Walau pun aku perempuan dan seharusnya bila aku menikah nanti aku akan mengikuti suamiku tapi dirumah ini, tidak akan ada yang datang. Tidak ada penyambutan mantu perempuan karena aku tidak ada saudara laki-laki yang membawa istrinya ke rumah.
Aku tidak akan tega meninggalkan ayah dan ibu ku banya berdua, aku tidak akan tega bila dirumah tidak ada yang membersihkan, tiak ada yang memasakkan makanan untuk kalian, Tidak ada yang mencucikan pakaian kalian, tidak ada yang merawat kalian bila kalian sakit nanti. Aku tidak akan tega bila kalian tidak dirawat dengan tangan ku sendiri. Semoga bila aku menikah nanti, suamiku bisa memahami dan mengerti posisi ku sebagai anak bungsu dirumah ini.
Namun saat ini Ya Allah, aku binggung apa yang harus aku lakukan. Aku ingin sekali bisa keluar dari kota Palembang dengan segala kepenatannya. Mencari keluarga bari, bisnis baru dan ladang dakwah baru. Aku ingin bisa berpetualang menikmati masa muda sebelum aku menikah. tapi dengan beberapa pertimbangan tadi bahwa aku tidak mau kalian berdua saja. Aku tau, kalian mengizinkan aku untuk pergi mencari kebebasan dan mengukjir masa depan. Kalian mengizinkan aku untuk ikut tes PNS diluar kota Palembang dengan alasan " Kamu akan susah lulus kalo ikut tes di Palembang", memang sesuai harapan ku untuk ikut tes diluar dan merasakan hidup mandiri tapi kembali kemasalah tadi Aku tidak akan rela jika kalian dirawat oleh orang lain selain aku sendiri. Sekarang aku hanya berdoa semoga Allah dapat melembutkan hati-hati yang keras, menurunkan ego2, dan menghilangkan rasa benci serta tidak menyukai dihati kakak ipar dan Ibu ku. Jika mbak dapat tinggal dirumah bersama anak dan suaminya aku pasti akan tenang bila aku berada jauh dari kalian.
Saat ini,aku takut untuk bermimpi bisa merantau meninggalkan kalian,tapi aku juga tidak ingin memupus mimpi itu untuk membangun sebuah bisnis pendidikan mencoba hidup mandiri. Aku mencoba memberanikan diri untuk merancang apa yang akan aku lakukan setelah wisuda nanti. Aku coba menjalankan apa yang ada didepan mata, tanpa melihat kedepan yang belum pasti. Aku Yakin, Allah akan memberikan yang terbaik untuk ku dan Orangtuaku....
Ibu dan Ayah, Aku adalah milikmu maka jadikan lah aku seperti yang kalian mau. Sudah puas aku dengan segala keinginan ku. Doakan aku agar dapat menjadi Apa yang kalian inginkan. Amin...

_Mentari Syifazillah Rizky_

Minggu, 11 April 2010

Dengan Keyakinan Ilaiyah Aku Ingin Menikah...


Bismillahirrahmannirrahiim..

Subhanallah, Aku tidak dapat berkata-kata selain asma Allah yang begitu indah. Allah seolah-olah menjawab ketakutanku selama ini. Allah memberi petunjuk ku tanpa ku minta. Allah membuka hatiku yang kupaksa tertutup. Allah melembutkan hatiku yang mengeras dalam dada ini. Ketakutan yang tidak realistis insyaAllah dapat ku hilangkan seiring jalannya waktu. Trauma yang tak jelas ku kubur...

Jujur aku takut sekali, takut dengan pernikahan akan sama dengan mbak ku, ku tak mau pernikahan membuat cela antara mbak ku dan orang tuaku.

Namun sekarang semuanya sirna, inilah yang dapat ku ambil Ibroh dari beberapa minggu terakhir ni disuguhin dengan yang namanya Cinta. Dapet pinjeman buku tentang cinta n pernikahan, Kumpul ma temen bahasnya pernikahan, ada acara temanya Pernikahan,,, Training pernikahan yang sudah kuikutin 2 kali berturut-turut inilah ibrohnya, ini pengaruhnya.
Setidaknya aku tidak lagi pusing jika aq mendengar kata2 nikah. Aku tau kita tidak ada istilah siap dan tidak siap. Jika Allah menuliskan to q menikah, itu artinya Allah telah mengetahui bahwa aku sudah siap to itu. Belajar itu setiap waktu bukan hanya sebelum menikah, namun setelah menikah kegiatan belajar terus berlanjut.
Sekarang jika beberapa teman bertanya "kenapa belum nikah nunggu apa?" jawaban ku bukan tunggu selesai skripsi karena aku tidak tau apakah Allah akan mengizinkan hidupku sampai waktu itu, aku sekarang akan menjawab " Nunggu Proposal"
Jika ada yang datang tentunya tidak asal-asalan, akan melalui proses yang islami tentunya. Murrobi yang siap menyeleksi dan Orang tua yang siap memberi.
Kini ku menanti, Allah Maha Tahu. Ku menanti seseorang yang sedang menantiku wlw ku tak tau siapa dia. Kan mengantarkan ku kepada kebahagiaan sampai kesyurga...Amin

_Mentari Syifazillah RIzky_
_Al Dhoif_